Semua Sudah Ada di Komputer
From: caturriyadiTo: Sent: Thursday, February 08, 2007 4:21 PM
Subject: SEMUA SUDAH ADA DI KOMPUTER???? ?
Artikel bagus nih dpt di internet.
Semua Sudah Ada di Komputer
Seorang ahli reservoir yang telah puluhan tahun bergulat di dunia perminyakan berkeluh kesah di suatu sore yang lembab. Dia berkeluh kesah tentang atmosfer kerja di suatu perusahaan minyak terkemuka. Atmosfer kerja yang telah bergelimang teknologi super tinggi. Nyatanya, yang terjadi justru paradoks fenomena kemunduran.
Dia mengeluhkan betapa para engineer, tenaga-tenaga muda itu, justru berkemampuan analisis yang dangkal, penghayatan pada data yang rendah, kepekaan yang tumpul, daya ingat yang pendek, gagap menguasai kondisi makro, namun juga ceroboh memahami detil, dsb. Meski begitu, dalam soal berpenampilan, tenaga-tenaga (muda) perminyakan itu tak bisa "disepelekan" : bahasa Inggris yang cas cis cus, menjinjing notebook kemana pun pergi, mengutak-atik PDA terkini, fasih menjelajahi internet, supel bersosialisasi di klub-klub golf, dan tak lupa mengendarai mobil mentereng seharga di atas Rp 300 jutaan.
Mereka sebenarnya lulusan universitas/ institut teknik bergengsi di negeri ini, bahkan luar negeri. Indeks prestasinya pun memukau. Tak lupa, mengoleksi sertifikat kursus singkat dan seminar di luar negeri. Di suatu pagi, dalam suatu percakapan sambil lalu di lift di kantornya, si ahli reservoir ini ditanya rekan kerjanya.
Dia sebenarnya sudah pensiun, tetapi diminta untuk tetap berkontribusi di perusahaan itu secara kontrak. Dia ditanyai rekannya, kenapa kok dia sudah tidak lagi cerewet. Si ahli reservoir dengan tanpa beban menjawab, dirinya dulu cerewet karena masih berharap ada perubahan. Perubahan yang lebih baik masih dimungkinkan dengan kecerewetan. Sementara, saat ini dia melihat, perubahan sudah tidak mungkin lagi terjadi di perusahaan itu.
Jadi tidak perlu lagi kecerewetan itu. Sambil mengucap itu dia melirik ke si bos besar, direktur utama, yang juga ada di lift. Yang dilirik hanya senyum-senyum tak memberi komentar. Si ahli reservoir, yang kini bertugas sebagai penasihat Si Dirut itu, tersenyum sinis. Tanpa beban.Salah satu yang menjadi kelelahan pikirannya adalah soal komputer. Komputer diakuinya memang memungkinkan berbagai keajaiban, yang tak terbayangkan sebelumnya.
Tapi dia lalu berujar lagi, efek samping dari komputerisasi (di berbagai aspek hidup, mungkin) menjadikan orang yang bergelut dengannya kehilangan penghayatan dalam berbagai hal yang substansial. Dia lalu memberi contoh soal data tentang sumur-sumur pengeboran. Dia melanjutkan. Saat masih bertugas dalam struktural, dia kerap kali meminta informasi dari para engineer muda tentang data kondisi sumur di lapangan garapan. Dengan cekatan, ringkas, dan efesien, biasanya para engineer yang diminta itu akan segera mencari data itu di komputer mereka. Lalu mereka mencetaknya (printing) dengan hasil cetakan berwarna yang mentereng. Namun, hanya dalam waktu tak sampai semenit, si ahli reservoir ini bisa mendeteksi data yang disorongkan ke hadapannya itu hanyalah sampah belaka. "Misalnya saja, saya langsung bisa tahu kenapa kandungan air yang disebut 60 persen itu pasti ngawur!
Saya tahu karakterirstik sumur yang itu, dan sumur-sumur yang lain. Karena saya menghayatinya. Jadi, jika tiba-tiba ada data yang melenceng sedikit saja dari karakeristik sumur itu, saya bisa peka mendeteksi ada yang enggak beres," ujar si ahli reservoir. Lalu, kenapa itu tidak bisa dideteksi oleh si engineer muda? Menurutnya itu karena etos si engineer yang hanya memercayakan seluruhnya pada apa yang ada di komputer. Untuk membuat grafik mengenai dinamika aktivitas suatu sumur misalnya, engineer saat ini hanya cukup memasukkan semua data ke dalam program di komputer.
Sim salabim, setelah program mengolahnya, grafik pun tercipta indah dan presisi. Tapi rupanya, proses pengolahan yang tak dijalani oleh manusia itulah (tergantikan oleh komputer), yang membuat berbagai kegagapan memahami substansi terjadi. Sementara, di era pra-komputer yang sempat dilalui si ahli reservoir, dia harus membuat grafik secara manual. Dengan kertas grafik, pensil, penggaris, dan berbagai pensil warna. Bahkan, hitungan matematika pun masih dilakukannya dengan coret-coretan, menelusuri tabel logaritma, tanpa kalkulator.. ."Tapi itu membuat saya menghayati setiap angka, setiap data. Setiap saya menandai titik, lalu menarik garis menjadi grafik, saya melalui prosesnya, sejak dari proses hitung menghitungnya. Itu yang membuat kita menghayati dari yang mikro hingga makro.
Jadi, sifat setiap sumur saya rasakan betul, saya kenali betul. Sehingga saya jadi peka kalau data sumur-sumur itu menunjukkan angka yang melenceng, pasti ada yang ngawur," paparnya. Sementara, di perusahaannya itu, para engineer muda merasa rendah martabatnya untuk memasukkan data-data mikro ke dalam komputer. Tugas semacam itu dikerjakan oleh semacam klerek, yang tugasnya hanya memasuk-masukkan data saja ke dalam komputer. Engineer tinggal mencomot data-data apapun yang mereka perlukan untuk diolah. Namun, yang terjadi, menurut si ahli reservoir, para engineer itu menjadi tidak peka pada setiap data. Dan, menelannya seolah-olah apa yang sudah tersedia di komputer itu benar. Tidak peka karena mereka tidak melalui proses data itu sendiri dari awal.
Dalam hal ini, tak bisa begitu saja menyalahkan si klerek.Sehingga, setiap kali ada pertanyaan sepele misalnya tentang kandungan air pada produksi minyak di suatu sumur, para engineer ini tidak serta merta bisa menjawab."Sebentar Pak, datanya ada di komputer, saya print dulu," begitu jawaban klasik yang keluar. Kenapa tidak bisa segera menjawab, ya tentu karena tidak hafal. Kenapa tidak hafal, ya karena tidak menghayati. Semua sudah dilakukan oleh komputer. Semua diyakini ada di komputer. Sementara, karakteristik komputer, garbage in, garbage out. "Mereka tidak punya kebiasaan melihat-lihat data, meskipun sedang tidak butuh. Sementara saya dulu meski tidak sedang butuh, data itu saya sawang-sawang (lihat-lihat) , sehingga terhayati betul. Jadi ingat sendiri.
Bukan dihafal kayak anak sekolah mau ujian," ujarnya. Dia sendiri menyadari betul, komputer adalah keniscayaan zaman. Tidak ada yang salah dengan kehadiran komputer. Yang salah adalah penggunanya, manusianya. Penggunanya, menurut dia jadi keblinger, jumawa, sehingga malah kehilangan kemampuan menghayati substansi. Penggunanya malah menjadi serba tidak tahu dan gagap. Tidak tahu apa yang sebenarnya harus dia kerjakan. Atau, malah tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia kerjakan. Aku lalu teringat pada ibuku.
Yang hingga detik ini tidak mampu menggunakan komputer. Bahkan menggerakkan mouse komputer saja dia mengaku stres luar biasa. Karena tidak mampu. Aku dulu sering mencandainya waktu dia menyelesaikan tesisnya dengan menulis tangan. Hingga ratusan lembar, ditulisnya dengan tangan. Dia lalu memintaku untuk mengetikkan tesis versi tulisan tangannya itu menjadi versi yang lebih "beradab".Ketika itu, aku yang masih SMA, merasa jumawa dan bangga di hadapan ibuku.
Ini lo, aku bisa fasih menggunakan komputer. Ibuku saja yang sudah sekolah tinggi-tinggi enggak bisa apa-apa dengan komputer. Haaahahahah. ..padahal itu kesombongan yang memalukan. Apa yang diresahkannya soal komputer memang lamat-lamat kurasakan ada benarnya. Nampaknya hal yang sama juga menimpa aku dan mungkin generasiku secara luas. Kami generasi yang sudah kehilangan ilmu titen, atau kecermatan untuk menghayati sekeliling kami. Entahlah, aku merasa kosong.
Apa yang dikatakannya seperti memercikkan kesadaran yang berbeda. Kadang memang aku lelah dan jenuh harus berhadapan dengan komputer saban hari. Aku merasa sudah begitu terjajah olehnya, hingga sumsum tulang rasanya terhisap-hisap saban hari. Godaan menjelajah internet telah membuat koleksi buku di lemari belum juga bisa terbaca tuntas. Belum lagi produk teknologi yang lain. Betapa aku pun seringkali merasa muak dengan telepon seluler. Muak dengan penjajahan yang demikian jahanam yang telah dilakukan ponsel. Ponsel yang cuma menjadi fasilitas perselingkungan-perselingkuhan yang tak mutu (ada ya yang bermutu? ). Ponsel yang dengan hambar menyampaikan senyuman dengan ikon seperti ini :). Dan, tindakan mematikan ponsel hanya menyumbat sementara "penjajahan" itu.
Saat tiba dinyalakan kembali, hujanan sms dan mailbox membuatku sesak napas. Aku juga teringat artikel yang ditulis temanku (EDN) di koran beberapa waktu lalu. Tentang kualitas film-film Indonesia saat ini. Hal yang dikritisinya sebenarnya sudah ditulisnya di FFI tahun lalu. Tapi, tetap saja itu relevan untuk tahun ini. Singkatnya, film-film karya sineas muda saat ini memang indah dan canggih dalam berbagai hal teknis. Tapi...gagap dan kopong dalam substansi. Tak tahu apa yang mau disampaikan. Mungkin pingin sok nyeni yang high art atau sok kreatif yang sok beda...Tapi ya itu, so wot...kopong. ..
Tulisannya itu menurutku sangat amat tepat. Ah, sudahlah. Mungkin karena baru bangkit."Itu tadi baru soal kualitas etos. Belum bicara mental konsumtif yang naik derajat jadi mental koruptif. Makanya saya sangat tidak heran, peristiwa lumpur Lapindo itu bisa terjadi. Kejadian seperti itu sebenarnya tinggal tunggu waktu," lanjutnya lagi, memecah lamunanku, yang kesana kemari.Aku lalu membayangkan sesosok engineer muda.
Dengan bahasa tubuh yang menyatakan kebanggaannya, dia memberiku kartu nama berhiaskan logo perusahaannya yang mentereng. Si engineer itu lalu berucap, "Ini name card saya, you punya ada?"

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home